Thursday, December 6, 2012

Kutukan Kuntilanak #8

Diposkan oleh Lyana Ismadelani

Fajar dan Soni
Soni       : “Jar.. mendingan kita mencar lagi. Aku kesana ya”
Fajar      : “Oke.. hati hati Son”
(Soni memasuki sebuah ruangan. Dia mendengar suara tangisan wanita dan dia mendekatinya)
Soni       : “Maaf mbak.. kenapa nangis disini..? disini sumpek mbak..”
(wanita yang membelakanginya tidak menjawab perkataan Soni)
Soni       : “Mbak… (menyentuh pundak wanita dan wanita itu membalikkan badan)
Soni       : “Aaaa.. Ya Alloh .. kok saya udah ketemu sama hantu lagi sih..” (berlari dan masuk ke dalam wc)
Soni       : “astagfirulloh.. astagfirulloh.. mukanya serem banget. Mudah-mudahan gak kesini”
Tiba-tiba Soni mendengar helaan nafas panjang berulang kali. Suara itu semakin jelas. Soni mulai curiga. Dan ketika Soni menyenterkan ponsel kearah suara itu. kuntilanak muncul di hadapannya dan mencekiknya hingga mati.
Dimas dan Fio
Fio          : “Tunggu Mas! Aku cape nii”
Dimas    : “Sama aku juga” (ngos-ngosan)
(Dimas membelakangi Fio dan meraih tangan Fio, yang ternyata adalah tangan kuntilanak)
Dimas    : “Yuk kita cari lagi sebelum semakin malam”
Fio          : (membalikkan badan) “Tunggu.. aku masih cape nihh (Dimas sudah tak ada) Maass!! Dimas!! Kamu dimana Mas? Mas?? Dimaassss??? Kamu dimanaaa???”
(Fio berlutut dan mulai menangis)
“TAP TAP TAP”, suara langkah mendekati Fio.
Fio          : “Naahh gitu dong balik lagi… AAAAAAAAAAAAAAAAAA” (Fio jatuh pingsan)
Dimas    : (mempererat genggaman tangannya) :Kok tangan kamu disini tapi suara kamu disana sih?”
(kuntilanak itu melepaskan genggaman Dimas)
Dimas    : “kamu kenapa Fio?” (menengok ke belakang dan tidak mendapati Fio di belakangnya”
Dimas    : “Hah!! PAsti tadi itu beneran Fio! Fio masih disana!! truss? Yang tadi itu siapa?? Pantesan tangannya dingin. Dia pasti kuntilanak itu. FIO??!! GUE HARUS KESANA SEKARANG”
(Dimas mendapati Fio yang pingsan)
Dimas    : “Fi!! Fi bangun Fi!” (menepak-nepak pipi Fio)
Fio          : “Dimas!! Dimas tadi kamu kemana!! Kuntilanak! Tadi dia datengin aku!!”
Dimas    : “Iya iya.. kamu tenang duku ya. Dia udah pergi kok. Tapi kamu gak diapa-apain kan?”
Fio          : (mengangguk pelan) “Aku gak papa. Yukk”
(mereka memasuki sebuah ruangan)
Dimas    : “Kayaknya ruangan ini yang dimasksud kakeknya Oliv”
Fio          : “Kayaknya sih iya.. biar aku kasih tau Fajar dulu”
Dimas    : “Baguslah.. sekarang baru jam 9 seperempat”
Fio          : (melihat ponselnya) “Gak ada sinyal”
Dimas    : “Yaudah kita keluar dulu”
(ketika hendak berlari keluar pintu tiba-tiba tertutup)
Dimas    : “Wah pintunya kekunci lagi!!”
Fio          : “Dobrak Mas!”
(dicoba berulang kali tetapi tetap tidak terbuka)
Oliv
Oliv        : (melihat jam tangannya) “Hah!! Udah jam sepuluh lebih limablas menit tapi gudangnya masih belum ketemu!! Duh mana belum ada kabar lagi. Mending aku telfon Fajar aja sekarang (melihat ponselnya) Uajj lobet lagi. Ada aja hambatannya!!”
(Linda dan Rita melihat Oliv)
Linda     : “BAGUS BAGUS!!” (menghampiri Oliv)
Oliv        : (berbalik) “LINDA?? RITA?? Kok kalian ada disini sih?”
Linda     : “HEH!! (menarik Oliv dengan kasar) wahay kuntilanak! Datang dan bunuhlah OLIV!”
Oliv        : “Linda!! Lo jangan sompral kalo ngomong”
Linda     : “Gue gak sompral! Gue pengen lo mati!”
Rita        : “Bunuh aja dia sekarang Lin”
Oliv        : “Jangan!! Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang. Sebelum kalian mati sia-sia”
Linda     : “Apa lo bilang?? MATI SIA SIA? LO YANG AKAN MATI SIA SIA?? (menyentuh gelang Oliv) gelang ini pembawa bencana kan?? (Oliv tertunduk) lepasin dong!”
Oliv        : “Udah gue coba.. Tapi gak bisa”
Rita        : “Lo mau tau caranya? Si Linda pasti bisa bantuin lo lepasin gelang butut lo itu! yak an Lin?’
Linda     : “Bener banget! Ta! Lo pegang tangan si Oliv. Mana tas lo?”
(Linda mengeluarkan pisau dari dalam tas Rita)
Oliv        : “Lo.. lo mau ngapain???”
Linda     : “Tangan lo mau gue potong!”
Oliv        : “JANGAN”
Ketika pisau itu ingin diiriskan pada tangan Oliv, tiba-tiba Oliv kerasukan. Dia menjerit dan mendorong Linda hingga tersungkur ke lantau dan pisau itu menggorok lehernya hingga mati
Rita        : “Mau apa lo??!! Gue masih ada pisau”
Oliv mendekat sambil melotot. Lalu merebut pisau yang dipegang Rita dan menusukkannya ke perut Rita. Sementara Lusi sudah mati ketika melihat Linda mati. Asmanya yang membuat dia kehabisan nafas. Sesaat Oliv tersadar.. Linda Lusi dan Rita sudah mati dan dia pun menjerit. Teriakan Oliv terdengar oleh Fajar, Icha dan Liana. Mereka pun datang ke ruangan itu.
Fajar      : “Oliv kamu kenapa? (memandang ke sekeliling)
Icha        : “Oliv ada apa?”
Oliv        : “Mereka mati bukan gara gara aku. Tapi tangan ini yang melakukannya”
Fajar      : (memandang Liana dan Icha) “Tenang dulu Liv.. sekarang ceritain kenapa mereka bisa mati”
Oliv        : “Ta.. tadi itu Linda Rita sama Lusi mau motong tangan aku. Trus.. aku gak tau lagi apa yang terjadi.. dan yang aku tau.. mereka udah mati dan aku yang menggenggam pisau ini”
Fajar      : “Lupain aja.. itu emang udah resiko mereka. Mereka yang minta berurusan sama kuntilanak-kuntilanak itu. sekarang.. kita harus cepet-cepet temukan gudang itu. udah jam 10 nih. Satu jam lagi para kuntilanak itu akan bangkit. Soni Dimas sama Fio mana?”
Icha        : “Gak tau. Gak ketemu”
Liana      : “Lebih baik kita telfon mereka. Gue telfon Fio. Lo telfon Dimas Liv. Lo terlfon Soni jar”
Oliv        : “Batre gue lobet”
Fajar      : “Biar gue aja”
(mereka melihat ponselnya masing-masing)
Fajar      : “Gue gak ada sinyal”
Liana      : “Sama gue juga”
Icha        : “Wah ini mulai gak beres ni. Mendingan kita mencar aja yuk. Kita gak punya banyak waktu”

Read Also

IMPORTANT IMPORTANT IMPORTANT IMPORTANT ^^

Postingan yang berada dibawah PESAN INI sama dengan postingan yang ada diatas ^^

Kutukan Kuntilanak #8


Fajar dan Soni
Soni       : “Jar.. mendingan kita mencar lagi. Aku kesana ya”
Fajar      : “Oke.. hati hati Son”
(Soni memasuki sebuah ruangan. Dia mendengar suara tangisan wanita dan dia mendekatinya)
Soni       : “Maaf mbak.. kenapa nangis disini..? disini sumpek mbak..”
(wanita yang membelakanginya tidak menjawab perkataan Soni)
Soni       : “Mbak… (menyentuh pundak wanita dan wanita itu membalikkan badan)
Soni       : “Aaaa.. Ya Alloh .. kok saya udah ketemu sama hantu lagi sih..” (berlari dan masuk ke dalam wc)
Soni       : “astagfirulloh.. astagfirulloh.. mukanya serem banget. Mudah-mudahan gak kesini”
Tiba-tiba Soni mendengar helaan nafas panjang berulang kali. Suara itu semakin jelas. Soni mulai curiga. Dan ketika Soni menyenterkan ponsel kearah suara itu. kuntilanak muncul di hadapannya dan mencekiknya hingga mati.
Dimas dan Fio
Fio          : “Tunggu Mas! Aku cape nii”
Dimas    : “Sama aku juga” (ngos-ngosan)
(Dimas membelakangi Fio dan meraih tangan Fio, yang ternyata adalah tangan kuntilanak)
Dimas    : “Yuk kita cari lagi sebelum semakin malam”
Fio          : (membalikkan badan) “Tunggu.. aku masih cape nihh (Dimas sudah tak ada) Maass!! Dimas!! Kamu dimana Mas? Mas?? Dimaassss??? Kamu dimanaaa???”
(Fio berlutut dan mulai menangis)
“TAP TAP TAP”, suara langkah mendekati Fio.
Fio          : “Naahh gitu dong balik lagi… AAAAAAAAAAAAAAAAAA” (Fio jatuh pingsan)
Dimas    : (mempererat genggaman tangannya) :Kok tangan kamu disini tapi suara kamu disana sih?”
(kuntilanak itu melepaskan genggaman Dimas)
Dimas    : “kamu kenapa Fio?” (menengok ke belakang dan tidak mendapati Fio di belakangnya”
Dimas    : “Hah!! PAsti tadi itu beneran Fio! Fio masih disana!! truss? Yang tadi itu siapa?? Pantesan tangannya dingin. Dia pasti kuntilanak itu. FIO??!! GUE HARUS KESANA SEKARANG”
(Dimas mendapati Fio yang pingsan)
Dimas    : “Fi!! Fi bangun Fi!” (menepak-nepak pipi Fio)
Fio          : “Dimas!! Dimas tadi kamu kemana!! Kuntilanak! Tadi dia datengin aku!!”
Dimas    : “Iya iya.. kamu tenang duku ya. Dia udah pergi kok. Tapi kamu gak diapa-apain kan?”
Fio          : (mengangguk pelan) “Aku gak papa. Yukk”
(mereka memasuki sebuah ruangan)
Dimas    : “Kayaknya ruangan ini yang dimasksud kakeknya Oliv”
Fio          : “Kayaknya sih iya.. biar aku kasih tau Fajar dulu”
Dimas    : “Baguslah.. sekarang baru jam 9 seperempat”
Fio          : (melihat ponselnya) “Gak ada sinyal”
Dimas    : “Yaudah kita keluar dulu”
(ketika hendak berlari keluar pintu tiba-tiba tertutup)
Dimas    : “Wah pintunya kekunci lagi!!”
Fio          : “Dobrak Mas!”
(dicoba berulang kali tetapi tetap tidak terbuka)
Oliv
Oliv        : (melihat jam tangannya) “Hah!! Udah jam sepuluh lebih limablas menit tapi gudangnya masih belum ketemu!! Duh mana belum ada kabar lagi. Mending aku telfon Fajar aja sekarang (melihat ponselnya) Uajj lobet lagi. Ada aja hambatannya!!”
(Linda dan Rita melihat Oliv)
Linda     : “BAGUS BAGUS!!” (menghampiri Oliv)
Oliv        : (berbalik) “LINDA?? RITA?? Kok kalian ada disini sih?”
Linda     : “HEH!! (menarik Oliv dengan kasar) wahay kuntilanak! Datang dan bunuhlah OLIV!”
Oliv        : “Linda!! Lo jangan sompral kalo ngomong”
Linda     : “Gue gak sompral! Gue pengen lo mati!”
Rita        : “Bunuh aja dia sekarang Lin”
Oliv        : “Jangan!! Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang. Sebelum kalian mati sia-sia”
Linda     : “Apa lo bilang?? MATI SIA SIA? LO YANG AKAN MATI SIA SIA?? (menyentuh gelang Oliv) gelang ini pembawa bencana kan?? (Oliv tertunduk) lepasin dong!”
Oliv        : “Udah gue coba.. Tapi gak bisa”
Rita        : “Lo mau tau caranya? Si Linda pasti bisa bantuin lo lepasin gelang butut lo itu! yak an Lin?’
Linda     : “Bener banget! Ta! Lo pegang tangan si Oliv. Mana tas lo?”
(Linda mengeluarkan pisau dari dalam tas Rita)
Oliv        : “Lo.. lo mau ngapain???”
Linda     : “Tangan lo mau gue potong!”
Oliv        : “JANGAN”
Ketika pisau itu ingin diiriskan pada tangan Oliv, tiba-tiba Oliv kerasukan. Dia menjerit dan mendorong Linda hingga tersungkur ke lantau dan pisau itu menggorok lehernya hingga mati
Rita        : “Mau apa lo??!! Gue masih ada pisau”
Oliv mendekat sambil melotot. Lalu merebut pisau yang dipegang Rita dan menusukkannya ke perut Rita. Sementara Lusi sudah mati ketika melihat Linda mati. Asmanya yang membuat dia kehabisan nafas. Sesaat Oliv tersadar.. Linda Lusi dan Rita sudah mati dan dia pun menjerit. Teriakan Oliv terdengar oleh Fajar, Icha dan Liana. Mereka pun datang ke ruangan itu.
Fajar      : “Oliv kamu kenapa? (memandang ke sekeliling)
Icha        : “Oliv ada apa?”
Oliv        : “Mereka mati bukan gara gara aku. Tapi tangan ini yang melakukannya”
Fajar      : (memandang Liana dan Icha) “Tenang dulu Liv.. sekarang ceritain kenapa mereka bisa mati”
Oliv        : “Ta.. tadi itu Linda Rita sama Lusi mau motong tangan aku. Trus.. aku gak tau lagi apa yang terjadi.. dan yang aku tau.. mereka udah mati dan aku yang menggenggam pisau ini”
Fajar      : “Lupain aja.. itu emang udah resiko mereka. Mereka yang minta berurusan sama kuntilanak-kuntilanak itu. sekarang.. kita harus cepet-cepet temukan gudang itu. udah jam 10 nih. Satu jam lagi para kuntilanak itu akan bangkit. Soni Dimas sama Fio mana?”
Icha        : “Gak tau. Gak ketemu”
Liana      : “Lebih baik kita telfon mereka. Gue telfon Fio. Lo telfon Dimas Liv. Lo terlfon Soni jar”
Oliv        : “Batre gue lobet”
Fajar      : “Biar gue aja”
(mereka melihat ponselnya masing-masing)
Fajar      : “Gue gak ada sinyal”
Liana      : “Sama gue juga”
Icha        : “Wah ini mulai gak beres ni. Mendingan kita mencar aja yuk. Kita gak punya banyak waktu”

 

Just a Little Thing Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal