Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Tuesday, January 29, 2013

First Sight #6

Diposkan oleh Lyana Ismadelani
Hari ini Fulan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Mencari berbagai referensi yang dapat membantu penelitiannya. Sampai akhirnya ponsel Fulan berbunyi.
"Cepat masuk kelas. Kuliah Pak Bobi dimajukan..."

Fulan segera mengembalikan buku yang di bacanya ke dalam rak. Melihat jam tangannya dan mendesah pelan. Lokasi kelasnya dari perpustakaan cukup jauh. Setidaknya ia membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di kelas. Sementara dosennya kali ini sangat-sangat menyebalkan.

Fulan setengah berlari menyusuri jalan disamping taman dibawah terik sinar matahari yang membuat tubuhnya semakin berkeringat. Tiba-tiba ia menubruk seorang laki-laki yang sedang membawa kotak berisi alat-alat lab yang tebuat dari kaca. Seketika kotak itu jatuh dan seluruh gelas kimia, pipa kapiler, beker, semua nya pecah. Fulan menggigit bibirnya panik. "Mmm.. Maaf.. Akuu.......". Muka laki-laki itu memerah. "Tidak bisakah kau berjalan lebih hati-hati lagi?!! Berbahaya!! Kalau ada yang celaka bagaimana?!", ucap laki-laki itu geram. "Maaf. Tapi aku tidak sengaja", seraya memunguti serpihan-serpihan kaca ke dalam kotak. Jarinya tergores dan meneteskan darah segar. "Sudah biar olehku saja! Sebaiknya kau pergi!!",sentak kali-laki itu. "Tapi.."-"PERGI KUBILANG!! Kau adalah bencana untukku siang ini!! Pergi sebelum kesialan datang lagi padaku!". Fulan memetik-metik jarinya takut kemudian ia pergi meninggalkan laki-laki yang sedang sibuk memunguti serpihan kaca.

***

Selama di kelas Fulan tidak mendapatkan satu persen konsentrasinya. Pikirannya tertuju pada kejadian siang tadi. Ia merasa sangat bersalah. Tapi ia bingung apa yang harus diperbuat. Ah.. Iya.. Kenapa tidak digantikan saja seluruh alat yang tadi ia pecahkan meski tak sengaja? Tapi.. Kemana ia harus menemui laki-laki tadi? Dia jurusan apa? Ya.. Sepertinya jurusan kimia. Pasti..

Setelah perkuliahan beres Fulan segera berlari ke gedung fakultas Mipa. Menyusuri koridor mencari letak lab. Lantai demi lantai ia susuri namun tidak kunjung menemui lab yang terbuka. Semuanya terkunci. Fulan mulai berputus asa sampai akhirnya ia naik ke lantai yang paling atas di gedung itu. Ia menyusuri koridor hingga akhirnya ia melihat lab yang berada di ujung kemudian merasa yakin bahwa laki-laki itu ada disana. Yaa. mungkin saja!!

Fulan menghampiri lab yang pintunya dalam keadaan terbuka. Memandang sekeliling. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang disana. Fulan memaksakan diri untuk masuk dan mencari. Ternyata benar. Laki-laki itu ada disana. Dia sedang menata botol-botol larutan di lemari.

Belum juga Fulan menyapa, laki-laki itu berbalik dan menyerngitkan alis matanya "Apa yang kau lakukan disini?!! Tidak sopan masuk sembarangan!!! Pergi!!", ucapnya keras. Fulan menggigit bibirnya. "Maaf. Tapi aku akan mengganti seluruh alat yang kupecahkan tadi siang.. Aku.. Sungguh-sungguh minta maaf"

"Kau pikir gampang menemukan alat-alat kaca yang kau pecahkan tadi siang?", laki-laki itu tersenyum meremehkan. "Aku akan berusaha. Bisa kau list alat apa saja yang harus kuganti? Aku mohon.."-"Baiklah. Sebentar", laki-laki itu mengambil sehelai kertas dan mulai menulis. "Kuberi kau waktu 24 jam untuk menemukan alat-alat ini. Besok kau harus datang kembali kesini dengan sekotak alat-alat yang sudah kau ganti. Mengerti!"-"Tapi.. Bisa kah kau memberi tahu dimana aku harus mencari?"-"BUKAN URUSANKU. Sekarang pergi!! Ku tunggu kau di sini di waktu yang sama. 16.20.", seraya berbalik dan kembali menyusun botol-botol larutan.

Fulan menggaruk-garuk kepalanya selama menuruni tangga. Ia berpikir keras kemana harus mencari. Pada siapa ia harus bertanya. Ia memutuskan untuk pergi ke taman dan menyalakan laptop nya.

***

Monday, January 28, 2013

First Sight #5

Diposkan oleh Lyana Ismadelani
Fulan menuruni anak tangga dengan sangat pelan. Bayangannya sudah mulai kabur. Pikirannya sudah tidak benar-benar bisa dikendalikan. Yang dia rasakan hanyalah pusing. Sesekali ia berhenti hanya untuk menepak-nepakkan pipinya yang manis merona itu. "Tidakk.. Errr. Jangan sekarang!! Kumohon!!", gerutu Fulan yang selanjutnya mencubit-cubit pipinya hingga terasa panas. Saat sampai di lantai 2 gedung H itu, Fulan kemudian berjalan menyusuri koridor berharap ada kursi kosong yang bisa ia tempati beberapa saat.

Fulan membanting badannya lemas. Ia sudah benar-benar kehilangan mungkin 75% kekuatannya. Yaa.. Apa boleh buat. Ini salahnya sendiri. Pagi tadi ia tidak sempat mengambil sarapan yang sudah disediakan mama untuknya. Kali ini ia benar-benar menyesal. Fulan memejamkan mata beberapa kali. Berharap ketika ia membuka mata, pandangannya tak lagi kabur.

"Permisi.. Apa yang sedang terjadi padamu?", terdengar suara laki-laki yang sepertinya bertanya padanya. Dengan segera Fulan membuka paksa matanya, membelalakkan matanya dan menjawab seolah tak terjadi apa-apa "Ah.. Ng.. Gak terjadi apa-apa.....". Laki-laki itu malah semakin bingung. Perempuan yang dia tanya menjawab tidak apa-apa sementara badannya gemetar dan berkeringat. "Ah yang benar? Sepertinya.. Kau sakit?", tanya laki-laki itu memastikan. Laki-laki itu membungkukkan badannya dan melihat wajah Fulan yang masih tertunduk kaku. Fulan sibuk dengan dirinya sendiri. Dan seketika Fulan pun jatuh pingsan.

***

Sofie membopong Fulan berjalan menuju kantin dan memesankan Fulan nasi soto. Fulan masih tak berdaya seraya bersender di kursinya. Sofie datang dengan segelas susu hangat. "Minum dulu lan. Biar kutebak. Pasti tadi pagi kamu lupa makan ya? Huhh". Fulan tersenyum dan berkata "Hehehh. Iya tadi buru-buru soalnya". Sofie tersenyum kesal karena kebiasaan Fulan yang buruk masih saja dilakukan.

"Untung aja tadi ada yang nolongin kamu terus dibawa ke ruang kesehatan. Coba kalo enggak.. Shhh". Fulan yang masih asik menyendoki kuah sotonya langsung tersentak. "Loh memangnya siapa yang menolongku tadi? Bukannya kau yang menolongku?". "Jelas bukan. Aku dikabarkan Santi kalo kamu ada di ruang kesehatan. Kata Santi kamu dibawa oleh seorang laki-laki tampan. Apa kau mengenalinya?". Fulan terdiam beberapa saat mencoba mencerna dengan baik perkataan yang baru didengarnya melalui mulut sahabatnya itu. Berfikir keras tentang laki-laki misterius yang menolongnya tadi siang. "Tampan? Hmmm", di fikiran Fulan ya hanya laki-laki itu yang tampan. Sehingga ia bingung laki-laki mana yang dimaksud. Yang ia tahu ia berharap laki-laki itulah yang menolongnya. Tapi.. Entahlahh...

Setelah merasa baikkan Fulan pun bergegas pulang bersama Sofie sebelum langit mulai meneteskan air-air nya. Ya.. langit sudah mulai mendung dan akan buruk jika Fulan masih berada di luar. "Ayo kita pulang fie". Sofie menyambut tangan Fulan dan mereka pun berjalan bersama menuju gerbang kampus.

Fulan dan Sofie masih berdiri di bibir jalan menanti bus yang lewat. Entah mengapa, sore ini serasa sulit sekali melihat bus yang lewat. Apa yang terjadi? Ng ng... Dan seketika mobil merah menepi dan kaca nya mulai terbuka. "Hey.. Kau sudah baikkan sekarang?", tanya seseorang yang berada di kursi pengemudi tersebut. Fulan tidak menggubrisnya karena tidak merasa kenal dengan pemilik mobil tersebut. "Hehh. laki-laki itu bertanya padamu, lan!", senggol Sofie. "Ah? Masa?". Fulan kemudian melihat siapa yang berada di balik kursi pengemudi itu. Dan ketika mata mereka saling bertemu, Fulan merasa jantungnya berdegup 3 kali lebih kencang. Laki-laki itu mengulang senyumannya karena ia hanya melihat Fulan menatapnya tanpa mengucapkan apapun. "Hey?", tanya nya lagi. "Kau lupa padaku, Fulan?". Fulan terkejut dan kemudian menjawab dengan nada gemetar "Oh.. Ya aku ingat. Aku baik-baik saja. Terimakasih"-"Sedang menunggu apa? Bus kah? Hari ini para supir bus sedang berdemo di depan kantor pemerintah. Percuma menunggu disitu. Mari masuk. Biar kuantar".

Fulan membantu sampai akhirnya Sofie mencubitnya. Sofie tahu bahwa Fulan sedang berada di luar kendali. Ya.. perempuan itu menyukainya, makanya bersikap begitu. "Terima saja, lan. Lumayan kan.." Fulan dan Sofie pun kemudian duduk di kursi penumpang. "Jadi, rumahmu dimana? Ah iya. Siapa temanmu ini?" Tanpa menunggu jawaban Fulan, Sofie pun menjawab, "Aku Sofie. Satu kelas dengan Fulan. Kamu siapa? Kok aku tidak tahu Fulan memiliki kenalan anak ekonomi ya.." sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Wah kau mengenali jurusanku?",-"Tentu. Aku mengenali jaket yang kau gunakan. Hhhh". Laki-laki itu tersenyum dan membelokkan stir nya ke arah kanan. Sementara Fulan masih menggigit bibirnya berharap ia bisa berbicara santai tanpa rasa gugup.

"Disini saja. Terimakasih sudah mengantar.", ucap Fulan agak sedikit ragu. Laki-laki itu menepikan mobilnya kemudian Fulan bergerak keluar bersama Sofie. "Terimakasih, kak", ucap Sofie sumringah. "Ya.. Kalau begitu aku duluan ya.. Bye". Laki-laki itu menancap gas dan bergerak menjauh dari pandangan kedua perempuan itu.

***

Tuesday, July 10, 2012

First Sight #4

Diposkan oleh Lyana Ismadelani
- Aku sudah di depan kampusmu - 
Fulan segera merapikan barang-barangnya kedalam tas dan keluar dari kelasnya. Ia setengah berlari menuju gerbang kampusnya dan mendapati seorang pria tinggi berjaket hijau army yang sedang menunggunya di atas sepeda motor. "Ciko!!", teriak Fulan sambil melambai-lambaikan tangannya. Fulan pun menyeberang jalan dan menghampiri Ciko. Ciko tersenyum lalu memberikan helm kepada Fulan. "Makan siang dulu yuk. Bagaimana?", tanya Ciko ramah. "Hmm.. Baiklahh.. Makan apa kita siang ini?", Fulan menjawabnya dengan nada girang.

Siang itu Ciko membawa Fulan ke sebuah restoran seafood yang berada di tengah kota. Fulan memilih kepiting lada hitam kesukaannya, sementara Ciko memesan sup ikan kakap. "Bagaimana presentasimu?", tanya Ciko setelah menelan beberapa tegukan lemon tea nya. "Menurutmu bagaimana?", Fulan tersenyum simpul. "Ahh.. Aku percaya pasti berjalan sukses. Ya kan?"-"Tentu sajaaaa!!!", Fulan pun terlihat begitu sumringah. "Sepertinya hari ini kau sangat lelah? Apa kau merasa sangat lapar?", Ciko mulai meledek. "Haha aku lapar. Tadi pagi aku tidak sempat sarapan hihi :D", Fulan menggigit bibirnya. "Ah kau ini. Kebiasaan -__-".

Setelah makan siang Ciko pun mengantarkan Fulan pulang lalu kembali ke kantornya karena jam makan siangnya sudah habis. Ciko bekerja di sebuah perusahaan swasta yang letaknya tidak jauh dari kampus Fulan. "Terimakasih banyak.. Hati-hati :)", Fulan melambaikan tangannya sampai Ciko benar-benar menghilang dari hadapannya.

***

"Sudah makan siang, sayang?", ibu Fulan menyambut anak bungsunya itu dengan sangat hangat. "Sudah mam, tadi bersama Ciko"-"Ohhh.. Baiklahh.. Sepertinya hubungan kalian makin dekat?", Ibu Fulan mulai menggoda Fulan. "Ahhh mama bisa aja. Kami hanya teman biasa, kok", kemudian Fulan berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya.

Fulan menutup pelan pintu kamarnya sambil mencoba mencerna apa yang ibunya katakan di pintu depan tadi. "Haiiihhhhh kita cuma teman! Berpikir apa sih aku ini!!!", dan menutup pintu dengan keras. Sebenarnya bukan karena Fulan tidak menyukai Ciko. Tapi... Ada sedikit masalah.... Itu..........

Fulan membuka buku epigrafinya dan mulai mempelajari lekukan-lekukan huruf kuno. Epigrafi adalah mata kuliah tersulit bagi Fulan. Ia selalu kesulitan dalam menerjemahkan kode-kode rahasia yang terdapat dalam prasasti. Namun itu tidak begitu saja membuat Fulan patah semangat. Ia yakin ia bisa menjadi seperti ayahnya, bahkan lebih hebat. Ia memiliki mimpi untuk berkeliling dunia menemukan peninggalan-peninggalan di masa lalu.

4 jam sudah Fulan berkutat dengan buku yang memiliki tebal 7cm itu. Hari sudah sore dan Fulan segera mandi karena ia takut penyakitnya kambuh jika mandi terlalu sore. Ia membasuh muka nya dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada seorang laki-laki. Yaa... laki-laki yang selalu ada di pikirannya kemanapun Fulan pergi. Entahlah.....

***

Friday, May 18, 2012

First Sight #3

Diposkan oleh Lyana Ismadelani

Fulan mengayuh sepedanya pelan. Pagi ini ia memiliki banyak energi untuk berolah-raga. Udara segar, tetesan embun di setiap dedaunan dan kicauan merdu burung-burung yang bertengger di dahan pohon membuat hati Fulan merasa sangat tenang. Sesekali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan sambil tersenyum memandang sekitar.

Fulan menghentikan kayuhannya di atas sebuah bukit dimana ia bisa melihat kota Awan dengan jelas. Ditelannya beberapa tegukan jus jambu segar yang sebelumnya sudah ia buat di rumah. Semua terasa damai sampai akhirnya ponsel Fulan berbunyi. "Ya haloo.. hah? Yang benar? Baik aku kesana sekarang.. 15 menit !!" Fulan meraih sepedanya kasar dan mengayuhnya kencang menuruni bukit yang masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Wajahnya memerah panas, panik, gemetaran. Ia hanya berharap bisa cepat sampai di rumahnya.

***

Fulan menatap cemas mamanya yang masih terbaring pingsan di sofa. Berkali-kali Fulan memijat kening mamanya dengan minyak angin namun mamanya masih belum sadarkan diri. Fulan duduk di lantai mematung memandangi mamanya. Sampai terdengar ledakan balon dari balik ruangan dan saat itulah Fulan melihat ayah dan kakanya menghampiri dengan iringan lagu ulang tahun dan sebuah kue ulangtahun besar. Lalu mamanya bangun dan ikut bernyanyi bersama ayah dan kakaknya. Seketika air mata Fulan terjatuh dan ia tersenyum kecut. "Aku dikerjai", sahutnya ketus disusul dengan pelukan hangat dari mamanya. "Selamat ulang tahun sayang..", mama mengecup manis kening Fulan dan diikuti oleh ayah dan kakaknya.

"Ha.. haa.. haaaa... Kau ini benar-benar lucu lan", goda Ridho. Fulan hanya bisa kikuk karena pagi ini ia benar-benar dibuat panik oleh keluarganya. "Jadi, kado apa yang kau inginkan dari ayah?, apa kau ingin pergi berlibur ke pulau bali?"-"Tidak yah.. Aku tidak menginginkan apa-apa kali ini. Aku hanya.......", desahnya pelan. "Aiihhh ternyata dugaanku benar. Adik kecilku ini sedang jatuh cinta rupanya!!", goda Ridho sambil terkekeh-kekeh. Fulan hanya menatap kosong kakaknya. "Baiklahh... hari ini kita akan pergi bertamasya karena esok aku harus kembali ke Jayasaka !!! Ayo segera bersiap adik manisku yang sedang jatuh cintaa. Hehhheh". Fulan hanya menatap geram kakaknya yang tidak berhenti meledeknya. "Sudah-sudah ayo segera bersiap-siap semuanya. Kita akan berangkat satu jam lagi.." ayah menambahkan. Semua orang rumah mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mama sibuk menyiapkan makanan di meja makan, Ayah sibuk memeriksa kondisi mobil, Ridho sibuk melist barang-barang yang harus ia bawa kembali ke pulau tempatnya bekerja, sementara Fulan sibuk memandangi dirinya di cermin dan membiarkan air kran wastafel kamar mandinya tetap mengalir.

Fulan tidak pernah bisa lepas dari fantasinya mengenai laki-laki itu. Kemanapun ia pergi, apapun yang ia lakukan, hanya ada satu bayangan subjek tetap yang selalu ada di dalam pikirannya. Ini memang pertama kali baginya Fulan merasa simpatik terhadap seseorang sampai-sampai ia harus menghabiskan banyak waktunya untuk memikirkan orang tersebut. Tiba-tiba Fulan tersentak dari lamunan panjang yang entah apa ketika kakaknya memanggil namanya keras.

"Apa yang masih kau lakukan? Ayo kita pergi!!!", terdengar suara kakaknya dari ruangan bawah. "Baik aku segera kesanaaaa!!!", sembari menutup kran wastafel dan meraih tas tangannya di atas kasur kemudian berlari ke bawah. Ridho memerhatikan langkah Fulan yang menuruni tangga dengan cepat kemudian mengusap-usap dagunya dan berkata "Kau itu hobi ya berlari menuruni tangga?? Tidak takut jatuh apa!!! Hati-hatilah menjadi wanita, jangan rusuh begitu -___-". Fulan hanya terkekeh dan berlari masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan seluruh kabel listrik telah dicabut dan seluruh lemari terkunci, Ridho pun mengunci pintu rumah dan menaiki mobil.

***

Friday, March 23, 2012

First sight #2

Diposkan oleh Lyana Ismadelani
"Ke toko buku yukk?"-"Hah? Memangnya kau mau cari buku apa disana?"-"Ya apa saja yang menarik.. Sambil jalan-jalan juga. Yuuuuukkkkk"-"Baiklah, yuk", Fulan membereskan buku-buku yang sedang ia baca dan menyimpannya kembali ke rak dimana dia mengambil buku-buku itu kemudian meninggalkan perpustakaan.

"Kau lapar tidak? Kita mau kemana dulu nih?", tanya Sofie sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Terserah..", Fulan menjawab pelan. Segera Sofie menarik tangan Fulan ke salah satu foodcourt kesukaannya. "Mau pesan apa? Aku yang tlaktir dehh...", Sofie mencolek dan memasang muka terlucunya. "Ah pasti ada maunya deh kamuuuuu... Yang ini nih..", Fulan menunjuk kepiting soka lada hitam. "Tau aja dehhh ah hihihi..", Sofie mencolek dagu Fulan dan meringis.

Ketika sedang asik bercanda tiba-tiba Fulan tercengang dengan pandangannya. Sesosok laki-laki tinggi berkemeja merah berjalan menuju pintu keluar. "Langsung ke toko buku yuk", ajak Fulan cepat. "Hah? Tapi kita baru aja 10 menit selesai makan. Ko buru-buru?", "Sudahhh.. Ayo !!!", Fulan berdiri dan mendahului Sofie keluar dari foodcourt itu.

Ketika menuruni escalator, Fulan tidak mendapati keberadaan laki-laki yang dilihatnya di foodcourt tadi. Fulan mennghembuskan nafasnya kasar. "Ada apa sih?", Sofie terengah-engah mengejar Fulan yang berjalan cepat dan membenarkan letak tas di pundaknya. "Tidak apa-apa. Sepertinya tadi aku melihat........ Sudah lupakan. Ayo!", "Hah? Lihat siapa?", "Bukan siapa-siapa."

***

Fulan menggoreskan pena hitamnya ke arah yang tidak beraturan di atas buku kampusnya. Sudah hampir satu jam Fulan melakukan hal ini. Yang ada di pikirannya hanyalah segudang pertanyaan mengenai wanita yang dilihatnya tadi siang. Sesekali Fulan mendeham pelan dan kembali berfikir keras tentang kejadian hari itu.

*tring..tring.. bunyi ponsel Fulan berbunyi, namun tidak membuat Fulan tersadar dari lamunannya. "Heyy, belum tidur?", seseorang membuka pintu dan berkata. Dengan segera Fulan menengok dan mendapati kakaknya yang bekerja di luar pulau itu berdiri di depan pintu kamarnya. "Kakaak!!!!", Fulan menghambur ke pelukan kakak laki-lakinya itu. "Kenapa ga sms dulu kalau mau pulang?", Fulan mencubit lengan kakak tersayangnya itu. "Aku ingin buat kejutan!!", jawab Ridho tegas. "Sudah bertemu mama?", "Tentu sudah, kau tidak mendengarku saat aku datang 15 menit lalu?", "Hehe.. Tidak..", "Ah kau ini keterlaluan!! Bukannya menyambut kedatanganku malah melamun tidak jelas di kamar", Ridho mengacak-ngacak rambut Fulan yang terikat. "Aihhhh.. Kakak !!!", Ridho berlari ke ruang keluarga dan Fulan pun mengejarnya.

"Hey hey sudah malam. Jangan membuat gaduh", wanita paruh baya yang sibuk menyiapkan sandwich berkata pelan sambil menyimpulkan senyum indah di bibirnya. "Ini nih si ka Ridhonya ngeselin ma..." sambil menyubit manja kakaknya itu. "Iyaaa... iyaaa maafin kakak ya adik manissssss.....", dengan gayanya yang khas sambil mengusap-usap kepala Fulan. "Jadi, apa yang kau lamunkan tadi? Kelihatannya serius sekali?", Ridho membuka pembicaraan serius. "Ah.. Bukan apa-apa". Ridho menyerengutkan dahinya, "Ahhh aku tidak percaya.. Ada apa? Apa kau punya masalah?". Fulan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan kakaknya itu. "Tidak.. Bukan apa-apa kok".

***

Saturday, February 25, 2012

First Sight #1

Diposkan oleh Lyana Ismadelani
Menarik nafas panjang dan mulai berfikir. Mungkin, kalau bukan karena penyakit ini ia bisa keluar untuk ikut berkumpul dengan kawan-kawan lamanya. Seseorang mungkin saja berharap besar untuk ia datang, atau mungkin tidak sama sekali. Fulan menghempaskan badannya pelan ke arah tempat tidurnya dan berdeham. "Aku harus bagaimana?", ucapnya pelan. Rintik-rintik hujan turun dengan irama yang tidak ia mengerti. Ia merasa sepi, tak ada sedikit kehangatan yang bisa dirasakannya saat ini. Sebuah amplop besar berisikan beberapa fotonya di masa lalu dikeluarkannya dari laci meja riasnya dan kemudian tersenyum kecil. "Sudah lama sekali..."

"Ayo makan lan..", seorang wanita bergamis hijau membuka pintu kamarnya dan membuatnya kaget. "Umm.. Baik ma, sebentar lagi. Aku harus membereskan ini dulu", seraya mengambil foto-foto dan memasukkannya kembali ke amplop. Wanita itu tersenyum dan kembali menutup pintu, pergi ke ruang makan dimana ayahnya sudah menunggu untuk makan malam bersama.

"Kau tidak jadi pergi?", ayahnya bertanya heran. "Tidak yah.. Lagipula saat ini hujan sedang turun dengan cukup deras. Tidak mungkin kalau aku pergi menghadiri reuni tersebut.", katanya pelan, menyadari bahwa ia sedang makan dan tidak boleh berbicara banyak dan keras. "Kau memang sebaiknya tidak pergi. Penyakitmu bisa tambah parah nanti !!", mamanya menambahkan. "Ya ma.. Aku mengerti", dan kembali melahap makanan yang ada dihadapannya.

Fulan kembali menuju kamarnya dan duduk di depan meja rias model kuno peninggalan zaman belanda. Ia memandangi wajahnya melalui cermin itu dan mulai berbicara pada sosok yang ada di hadapannya. "Kira-kira dia sedang apa ya?", menatap dalam mata itu dan berharap seseorang dibalik cermin itu menjawab pertanyaan konyolnya. "Apa pernah satu waktu dia berfikir tentang aku?", kali ini mulutnya mulai manyun.

***

Fulan mengeluarkan earphone dan memasangnya ke mp4 miliknya, menarik sebuah buku novel dan mulai membacanya lembar demi lembar. "Apa bagian ini kosong?", seseorang bediri di hadapannya dan bertanya. Fulan menutup novelnya kaget dan menatap seseorang itu. Seketika badannya mulai bergetar. "Ya.. Silahkan", ucapnya gugup. Ternyata orang yang bertanya padanya itu adalah seseorang yang dia lihat melalui kerumunan pendaftar tadi. "Mahasiswi jurusan apa?", tanya laki-laki itu saat melepas tasnya dan duduk di sebelah Fulan.. "Um.. Jurusan Arkeologi. Kau sendiri?". "Aku Jurusan Ekonomi. Namaku Miki, namamu?". "Fulan", meraih tangan Miki dan menyalaminya. "Hmmm ngomong-ngomong kenapa kamu mau masuk jurusan itu? Bukankah didominasi oleh laki-laki ya?". Fulan menyimpulkan senyum penuh arti dan membuka kembali novel yang tadi tertutup karena dikagetkan oleh Miki.

"Ayahku seorang arkeolog. Dia bekerja di salah satu museum disini, kupikir tidak buruk jika aku ingin menjadi seperti ayahku". Miki mengangguk pelan meskipun sebenarnya ia masih belum bisa menerima argumen yang baru saja dia dengar. "Lalu, jika kau mengambil ekonomi, mengapa tidak berkuliah di Unimi?", tanya Fulan heran. "Aku sudah mencoba, tapi tidak diterima."-"Tidak apa-apa, tidak peduli kau berkuliah dimana, jika kau mampu kau pasti bisa", kali ini kata-kata Fulan terucap pasti, tanpa terdengar getaran-getaran di bibir merahnya.

***

Read Also

IMPORTANT IMPORTANT IMPORTANT IMPORTANT ^^

Postingan yang berada dibawah PESAN INI sama dengan postingan yang ada diatas ^^
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

First Sight #6

Hari ini Fulan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Mencari berbagai referensi yang dapat membantu penelitiannya. Sampai akhirnya ponsel Fulan berbunyi.
"Cepat masuk kelas. Kuliah Pak Bobi dimajukan..."

Fulan segera mengembalikan buku yang di bacanya ke dalam rak. Melihat jam tangannya dan mendesah pelan. Lokasi kelasnya dari perpustakaan cukup jauh. Setidaknya ia membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di kelas. Sementara dosennya kali ini sangat-sangat menyebalkan.

Fulan setengah berlari menyusuri jalan disamping taman dibawah terik sinar matahari yang membuat tubuhnya semakin berkeringat. Tiba-tiba ia menubruk seorang laki-laki yang sedang membawa kotak berisi alat-alat lab yang tebuat dari kaca. Seketika kotak itu jatuh dan seluruh gelas kimia, pipa kapiler, beker, semua nya pecah. Fulan menggigit bibirnya panik. "Mmm.. Maaf.. Akuu.......". Muka laki-laki itu memerah. "Tidak bisakah kau berjalan lebih hati-hati lagi?!! Berbahaya!! Kalau ada yang celaka bagaimana?!", ucap laki-laki itu geram. "Maaf. Tapi aku tidak sengaja", seraya memunguti serpihan-serpihan kaca ke dalam kotak. Jarinya tergores dan meneteskan darah segar. "Sudah biar olehku saja! Sebaiknya kau pergi!!",sentak kali-laki itu. "Tapi.."-"PERGI KUBILANG!! Kau adalah bencana untukku siang ini!! Pergi sebelum kesialan datang lagi padaku!". Fulan memetik-metik jarinya takut kemudian ia pergi meninggalkan laki-laki yang sedang sibuk memunguti serpihan kaca.

***

Selama di kelas Fulan tidak mendapatkan satu persen konsentrasinya. Pikirannya tertuju pada kejadian siang tadi. Ia merasa sangat bersalah. Tapi ia bingung apa yang harus diperbuat. Ah.. Iya.. Kenapa tidak digantikan saja seluruh alat yang tadi ia pecahkan meski tak sengaja? Tapi.. Kemana ia harus menemui laki-laki tadi? Dia jurusan apa? Ya.. Sepertinya jurusan kimia. Pasti..

Setelah perkuliahan beres Fulan segera berlari ke gedung fakultas Mipa. Menyusuri koridor mencari letak lab. Lantai demi lantai ia susuri namun tidak kunjung menemui lab yang terbuka. Semuanya terkunci. Fulan mulai berputus asa sampai akhirnya ia naik ke lantai yang paling atas di gedung itu. Ia menyusuri koridor hingga akhirnya ia melihat lab yang berada di ujung kemudian merasa yakin bahwa laki-laki itu ada disana. Yaa. mungkin saja!!

Fulan menghampiri lab yang pintunya dalam keadaan terbuka. Memandang sekeliling. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang disana. Fulan memaksakan diri untuk masuk dan mencari. Ternyata benar. Laki-laki itu ada disana. Dia sedang menata botol-botol larutan di lemari.

Belum juga Fulan menyapa, laki-laki itu berbalik dan menyerngitkan alis matanya "Apa yang kau lakukan disini?!! Tidak sopan masuk sembarangan!!! Pergi!!", ucapnya keras. Fulan menggigit bibirnya. "Maaf. Tapi aku akan mengganti seluruh alat yang kupecahkan tadi siang.. Aku.. Sungguh-sungguh minta maaf"

"Kau pikir gampang menemukan alat-alat kaca yang kau pecahkan tadi siang?", laki-laki itu tersenyum meremehkan. "Aku akan berusaha. Bisa kau list alat apa saja yang harus kuganti? Aku mohon.."-"Baiklah. Sebentar", laki-laki itu mengambil sehelai kertas dan mulai menulis. "Kuberi kau waktu 24 jam untuk menemukan alat-alat ini. Besok kau harus datang kembali kesini dengan sekotak alat-alat yang sudah kau ganti. Mengerti!"-"Tapi.. Bisa kah kau memberi tahu dimana aku harus mencari?"-"BUKAN URUSANKU. Sekarang pergi!! Ku tunggu kau di sini di waktu yang sama. 16.20.", seraya berbalik dan kembali menyusun botol-botol larutan.

Fulan menggaruk-garuk kepalanya selama menuruni tangga. Ia berpikir keras kemana harus mencari. Pada siapa ia harus bertanya. Ia memutuskan untuk pergi ke taman dan menyalakan laptop nya.

***

First Sight #5

Fulan menuruni anak tangga dengan sangat pelan. Bayangannya sudah mulai kabur. Pikirannya sudah tidak benar-benar bisa dikendalikan. Yang dia rasakan hanyalah pusing. Sesekali ia berhenti hanya untuk menepak-nepakkan pipinya yang manis merona itu. "Tidakk.. Errr. Jangan sekarang!! Kumohon!!", gerutu Fulan yang selanjutnya mencubit-cubit pipinya hingga terasa panas. Saat sampai di lantai 2 gedung H itu, Fulan kemudian berjalan menyusuri koridor berharap ada kursi kosong yang bisa ia tempati beberapa saat.

Fulan membanting badannya lemas. Ia sudah benar-benar kehilangan mungkin 75% kekuatannya. Yaa.. Apa boleh buat. Ini salahnya sendiri. Pagi tadi ia tidak sempat mengambil sarapan yang sudah disediakan mama untuknya. Kali ini ia benar-benar menyesal. Fulan memejamkan mata beberapa kali. Berharap ketika ia membuka mata, pandangannya tak lagi kabur.

"Permisi.. Apa yang sedang terjadi padamu?", terdengar suara laki-laki yang sepertinya bertanya padanya. Dengan segera Fulan membuka paksa matanya, membelalakkan matanya dan menjawab seolah tak terjadi apa-apa "Ah.. Ng.. Gak terjadi apa-apa.....". Laki-laki itu malah semakin bingung. Perempuan yang dia tanya menjawab tidak apa-apa sementara badannya gemetar dan berkeringat. "Ah yang benar? Sepertinya.. Kau sakit?", tanya laki-laki itu memastikan. Laki-laki itu membungkukkan badannya dan melihat wajah Fulan yang masih tertunduk kaku. Fulan sibuk dengan dirinya sendiri. Dan seketika Fulan pun jatuh pingsan.

***

Sofie membopong Fulan berjalan menuju kantin dan memesankan Fulan nasi soto. Fulan masih tak berdaya seraya bersender di kursinya. Sofie datang dengan segelas susu hangat. "Minum dulu lan. Biar kutebak. Pasti tadi pagi kamu lupa makan ya? Huhh". Fulan tersenyum dan berkata "Hehehh. Iya tadi buru-buru soalnya". Sofie tersenyum kesal karena kebiasaan Fulan yang buruk masih saja dilakukan.

"Untung aja tadi ada yang nolongin kamu terus dibawa ke ruang kesehatan. Coba kalo enggak.. Shhh". Fulan yang masih asik menyendoki kuah sotonya langsung tersentak. "Loh memangnya siapa yang menolongku tadi? Bukannya kau yang menolongku?". "Jelas bukan. Aku dikabarkan Santi kalo kamu ada di ruang kesehatan. Kata Santi kamu dibawa oleh seorang laki-laki tampan. Apa kau mengenalinya?". Fulan terdiam beberapa saat mencoba mencerna dengan baik perkataan yang baru didengarnya melalui mulut sahabatnya itu. Berfikir keras tentang laki-laki misterius yang menolongnya tadi siang. "Tampan? Hmmm", di fikiran Fulan ya hanya laki-laki itu yang tampan. Sehingga ia bingung laki-laki mana yang dimaksud. Yang ia tahu ia berharap laki-laki itulah yang menolongnya. Tapi.. Entahlahh...

Setelah merasa baikkan Fulan pun bergegas pulang bersama Sofie sebelum langit mulai meneteskan air-air nya. Ya.. langit sudah mulai mendung dan akan buruk jika Fulan masih berada di luar. "Ayo kita pulang fie". Sofie menyambut tangan Fulan dan mereka pun berjalan bersama menuju gerbang kampus.

Fulan dan Sofie masih berdiri di bibir jalan menanti bus yang lewat. Entah mengapa, sore ini serasa sulit sekali melihat bus yang lewat. Apa yang terjadi? Ng ng... Dan seketika mobil merah menepi dan kaca nya mulai terbuka. "Hey.. Kau sudah baikkan sekarang?", tanya seseorang yang berada di kursi pengemudi tersebut. Fulan tidak menggubrisnya karena tidak merasa kenal dengan pemilik mobil tersebut. "Hehh. laki-laki itu bertanya padamu, lan!", senggol Sofie. "Ah? Masa?". Fulan kemudian melihat siapa yang berada di balik kursi pengemudi itu. Dan ketika mata mereka saling bertemu, Fulan merasa jantungnya berdegup 3 kali lebih kencang. Laki-laki itu mengulang senyumannya karena ia hanya melihat Fulan menatapnya tanpa mengucapkan apapun. "Hey?", tanya nya lagi. "Kau lupa padaku, Fulan?". Fulan terkejut dan kemudian menjawab dengan nada gemetar "Oh.. Ya aku ingat. Aku baik-baik saja. Terimakasih"-"Sedang menunggu apa? Bus kah? Hari ini para supir bus sedang berdemo di depan kantor pemerintah. Percuma menunggu disitu. Mari masuk. Biar kuantar".

Fulan membantu sampai akhirnya Sofie mencubitnya. Sofie tahu bahwa Fulan sedang berada di luar kendali. Ya.. perempuan itu menyukainya, makanya bersikap begitu. "Terima saja, lan. Lumayan kan.." Fulan dan Sofie pun kemudian duduk di kursi penumpang. "Jadi, rumahmu dimana? Ah iya. Siapa temanmu ini?" Tanpa menunggu jawaban Fulan, Sofie pun menjawab, "Aku Sofie. Satu kelas dengan Fulan. Kamu siapa? Kok aku tidak tahu Fulan memiliki kenalan anak ekonomi ya.." sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Wah kau mengenali jurusanku?",-"Tentu. Aku mengenali jaket yang kau gunakan. Hhhh". Laki-laki itu tersenyum dan membelokkan stir nya ke arah kanan. Sementara Fulan masih menggigit bibirnya berharap ia bisa berbicara santai tanpa rasa gugup.

"Disini saja. Terimakasih sudah mengantar.", ucap Fulan agak sedikit ragu. Laki-laki itu menepikan mobilnya kemudian Fulan bergerak keluar bersama Sofie. "Terimakasih, kak", ucap Sofie sumringah. "Ya.. Kalau begitu aku duluan ya.. Bye". Laki-laki itu menancap gas dan bergerak menjauh dari pandangan kedua perempuan itu.

***

First Sight #4

- Aku sudah di depan kampusmu - 
Fulan segera merapikan barang-barangnya kedalam tas dan keluar dari kelasnya. Ia setengah berlari menuju gerbang kampusnya dan mendapati seorang pria tinggi berjaket hijau army yang sedang menunggunya di atas sepeda motor. "Ciko!!", teriak Fulan sambil melambai-lambaikan tangannya. Fulan pun menyeberang jalan dan menghampiri Ciko. Ciko tersenyum lalu memberikan helm kepada Fulan. "Makan siang dulu yuk. Bagaimana?", tanya Ciko ramah. "Hmm.. Baiklahh.. Makan apa kita siang ini?", Fulan menjawabnya dengan nada girang.

Siang itu Ciko membawa Fulan ke sebuah restoran seafood yang berada di tengah kota. Fulan memilih kepiting lada hitam kesukaannya, sementara Ciko memesan sup ikan kakap. "Bagaimana presentasimu?", tanya Ciko setelah menelan beberapa tegukan lemon tea nya. "Menurutmu bagaimana?", Fulan tersenyum simpul. "Ahh.. Aku percaya pasti berjalan sukses. Ya kan?"-"Tentu sajaaaa!!!", Fulan pun terlihat begitu sumringah. "Sepertinya hari ini kau sangat lelah? Apa kau merasa sangat lapar?", Ciko mulai meledek. "Haha aku lapar. Tadi pagi aku tidak sempat sarapan hihi :D", Fulan menggigit bibirnya. "Ah kau ini. Kebiasaan -__-".

Setelah makan siang Ciko pun mengantarkan Fulan pulang lalu kembali ke kantornya karena jam makan siangnya sudah habis. Ciko bekerja di sebuah perusahaan swasta yang letaknya tidak jauh dari kampus Fulan. "Terimakasih banyak.. Hati-hati :)", Fulan melambaikan tangannya sampai Ciko benar-benar menghilang dari hadapannya.

***

"Sudah makan siang, sayang?", ibu Fulan menyambut anak bungsunya itu dengan sangat hangat. "Sudah mam, tadi bersama Ciko"-"Ohhh.. Baiklahh.. Sepertinya hubungan kalian makin dekat?", Ibu Fulan mulai menggoda Fulan. "Ahhh mama bisa aja. Kami hanya teman biasa, kok", kemudian Fulan berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya.

Fulan menutup pelan pintu kamarnya sambil mencoba mencerna apa yang ibunya katakan di pintu depan tadi. "Haiiihhhhh kita cuma teman! Berpikir apa sih aku ini!!!", dan menutup pintu dengan keras. Sebenarnya bukan karena Fulan tidak menyukai Ciko. Tapi... Ada sedikit masalah.... Itu..........

Fulan membuka buku epigrafinya dan mulai mempelajari lekukan-lekukan huruf kuno. Epigrafi adalah mata kuliah tersulit bagi Fulan. Ia selalu kesulitan dalam menerjemahkan kode-kode rahasia yang terdapat dalam prasasti. Namun itu tidak begitu saja membuat Fulan patah semangat. Ia yakin ia bisa menjadi seperti ayahnya, bahkan lebih hebat. Ia memiliki mimpi untuk berkeliling dunia menemukan peninggalan-peninggalan di masa lalu.

4 jam sudah Fulan berkutat dengan buku yang memiliki tebal 7cm itu. Hari sudah sore dan Fulan segera mandi karena ia takut penyakitnya kambuh jika mandi terlalu sore. Ia membasuh muka nya dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada seorang laki-laki. Yaa... laki-laki yang selalu ada di pikirannya kemanapun Fulan pergi. Entahlah.....

***

First Sight #3


Fulan mengayuh sepedanya pelan. Pagi ini ia memiliki banyak energi untuk berolah-raga. Udara segar, tetesan embun di setiap dedaunan dan kicauan merdu burung-burung yang bertengger di dahan pohon membuat hati Fulan merasa sangat tenang. Sesekali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan sambil tersenyum memandang sekitar.

Fulan menghentikan kayuhannya di atas sebuah bukit dimana ia bisa melihat kota Awan dengan jelas. Ditelannya beberapa tegukan jus jambu segar yang sebelumnya sudah ia buat di rumah. Semua terasa damai sampai akhirnya ponsel Fulan berbunyi. "Ya haloo.. hah? Yang benar? Baik aku kesana sekarang.. 15 menit !!" Fulan meraih sepedanya kasar dan mengayuhnya kencang menuruni bukit yang masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Wajahnya memerah panas, panik, gemetaran. Ia hanya berharap bisa cepat sampai di rumahnya.

***

Fulan menatap cemas mamanya yang masih terbaring pingsan di sofa. Berkali-kali Fulan memijat kening mamanya dengan minyak angin namun mamanya masih belum sadarkan diri. Fulan duduk di lantai mematung memandangi mamanya. Sampai terdengar ledakan balon dari balik ruangan dan saat itulah Fulan melihat ayah dan kakanya menghampiri dengan iringan lagu ulang tahun dan sebuah kue ulangtahun besar. Lalu mamanya bangun dan ikut bernyanyi bersama ayah dan kakaknya. Seketika air mata Fulan terjatuh dan ia tersenyum kecut. "Aku dikerjai", sahutnya ketus disusul dengan pelukan hangat dari mamanya. "Selamat ulang tahun sayang..", mama mengecup manis kening Fulan dan diikuti oleh ayah dan kakaknya.

"Ha.. haa.. haaaa... Kau ini benar-benar lucu lan", goda Ridho. Fulan hanya bisa kikuk karena pagi ini ia benar-benar dibuat panik oleh keluarganya. "Jadi, kado apa yang kau inginkan dari ayah?, apa kau ingin pergi berlibur ke pulau bali?"-"Tidak yah.. Aku tidak menginginkan apa-apa kali ini. Aku hanya.......", desahnya pelan. "Aiihhh ternyata dugaanku benar. Adik kecilku ini sedang jatuh cinta rupanya!!", goda Ridho sambil terkekeh-kekeh. Fulan hanya menatap kosong kakaknya. "Baiklahh... hari ini kita akan pergi bertamasya karena esok aku harus kembali ke Jayasaka !!! Ayo segera bersiap adik manisku yang sedang jatuh cintaa. Hehhheh". Fulan hanya menatap geram kakaknya yang tidak berhenti meledeknya. "Sudah-sudah ayo segera bersiap-siap semuanya. Kita akan berangkat satu jam lagi.." ayah menambahkan. Semua orang rumah mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mama sibuk menyiapkan makanan di meja makan, Ayah sibuk memeriksa kondisi mobil, Ridho sibuk melist barang-barang yang harus ia bawa kembali ke pulau tempatnya bekerja, sementara Fulan sibuk memandangi dirinya di cermin dan membiarkan air kran wastafel kamar mandinya tetap mengalir.

Fulan tidak pernah bisa lepas dari fantasinya mengenai laki-laki itu. Kemanapun ia pergi, apapun yang ia lakukan, hanya ada satu bayangan subjek tetap yang selalu ada di dalam pikirannya. Ini memang pertama kali baginya Fulan merasa simpatik terhadap seseorang sampai-sampai ia harus menghabiskan banyak waktunya untuk memikirkan orang tersebut. Tiba-tiba Fulan tersentak dari lamunan panjang yang entah apa ketika kakaknya memanggil namanya keras.

"Apa yang masih kau lakukan? Ayo kita pergi!!!", terdengar suara kakaknya dari ruangan bawah. "Baik aku segera kesanaaaa!!!", sembari menutup kran wastafel dan meraih tas tangannya di atas kasur kemudian berlari ke bawah. Ridho memerhatikan langkah Fulan yang menuruni tangga dengan cepat kemudian mengusap-usap dagunya dan berkata "Kau itu hobi ya berlari menuruni tangga?? Tidak takut jatuh apa!!! Hati-hatilah menjadi wanita, jangan rusuh begitu -___-". Fulan hanya terkekeh dan berlari masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan seluruh kabel listrik telah dicabut dan seluruh lemari terkunci, Ridho pun mengunci pintu rumah dan menaiki mobil.

***

First sight #2

"Ke toko buku yukk?"-"Hah? Memangnya kau mau cari buku apa disana?"-"Ya apa saja yang menarik.. Sambil jalan-jalan juga. Yuuuuukkkkk"-"Baiklah, yuk", Fulan membereskan buku-buku yang sedang ia baca dan menyimpannya kembali ke rak dimana dia mengambil buku-buku itu kemudian meninggalkan perpustakaan.

"Kau lapar tidak? Kita mau kemana dulu nih?", tanya Sofie sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Terserah..", Fulan menjawab pelan. Segera Sofie menarik tangan Fulan ke salah satu foodcourt kesukaannya. "Mau pesan apa? Aku yang tlaktir dehh...", Sofie mencolek dan memasang muka terlucunya. "Ah pasti ada maunya deh kamuuuuu... Yang ini nih..", Fulan menunjuk kepiting soka lada hitam. "Tau aja dehhh ah hihihi..", Sofie mencolek dagu Fulan dan meringis.

Ketika sedang asik bercanda tiba-tiba Fulan tercengang dengan pandangannya. Sesosok laki-laki tinggi berkemeja merah berjalan menuju pintu keluar. "Langsung ke toko buku yuk", ajak Fulan cepat. "Hah? Tapi kita baru aja 10 menit selesai makan. Ko buru-buru?", "Sudahhh.. Ayo !!!", Fulan berdiri dan mendahului Sofie keluar dari foodcourt itu.

Ketika menuruni escalator, Fulan tidak mendapati keberadaan laki-laki yang dilihatnya di foodcourt tadi. Fulan mennghembuskan nafasnya kasar. "Ada apa sih?", Sofie terengah-engah mengejar Fulan yang berjalan cepat dan membenarkan letak tas di pundaknya. "Tidak apa-apa. Sepertinya tadi aku melihat........ Sudah lupakan. Ayo!", "Hah? Lihat siapa?", "Bukan siapa-siapa."

***

Fulan menggoreskan pena hitamnya ke arah yang tidak beraturan di atas buku kampusnya. Sudah hampir satu jam Fulan melakukan hal ini. Yang ada di pikirannya hanyalah segudang pertanyaan mengenai wanita yang dilihatnya tadi siang. Sesekali Fulan mendeham pelan dan kembali berfikir keras tentang kejadian hari itu.

*tring..tring.. bunyi ponsel Fulan berbunyi, namun tidak membuat Fulan tersadar dari lamunannya. "Heyy, belum tidur?", seseorang membuka pintu dan berkata. Dengan segera Fulan menengok dan mendapati kakaknya yang bekerja di luar pulau itu berdiri di depan pintu kamarnya. "Kakaak!!!!", Fulan menghambur ke pelukan kakak laki-lakinya itu. "Kenapa ga sms dulu kalau mau pulang?", Fulan mencubit lengan kakak tersayangnya itu. "Aku ingin buat kejutan!!", jawab Ridho tegas. "Sudah bertemu mama?", "Tentu sudah, kau tidak mendengarku saat aku datang 15 menit lalu?", "Hehe.. Tidak..", "Ah kau ini keterlaluan!! Bukannya menyambut kedatanganku malah melamun tidak jelas di kamar", Ridho mengacak-ngacak rambut Fulan yang terikat. "Aihhhh.. Kakak !!!", Ridho berlari ke ruang keluarga dan Fulan pun mengejarnya.

"Hey hey sudah malam. Jangan membuat gaduh", wanita paruh baya yang sibuk menyiapkan sandwich berkata pelan sambil menyimpulkan senyum indah di bibirnya. "Ini nih si ka Ridhonya ngeselin ma..." sambil menyubit manja kakaknya itu. "Iyaaa... iyaaa maafin kakak ya adik manissssss.....", dengan gayanya yang khas sambil mengusap-usap kepala Fulan. "Jadi, apa yang kau lamunkan tadi? Kelihatannya serius sekali?", Ridho membuka pembicaraan serius. "Ah.. Bukan apa-apa". Ridho menyerengutkan dahinya, "Ahhh aku tidak percaya.. Ada apa? Apa kau punya masalah?". Fulan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan kakaknya itu. "Tidak.. Bukan apa-apa kok".

***

First Sight #1

Menarik nafas panjang dan mulai berfikir. Mungkin, kalau bukan karena penyakit ini ia bisa keluar untuk ikut berkumpul dengan kawan-kawan lamanya. Seseorang mungkin saja berharap besar untuk ia datang, atau mungkin tidak sama sekali. Fulan menghempaskan badannya pelan ke arah tempat tidurnya dan berdeham. "Aku harus bagaimana?", ucapnya pelan. Rintik-rintik hujan turun dengan irama yang tidak ia mengerti. Ia merasa sepi, tak ada sedikit kehangatan yang bisa dirasakannya saat ini. Sebuah amplop besar berisikan beberapa fotonya di masa lalu dikeluarkannya dari laci meja riasnya dan kemudian tersenyum kecil. "Sudah lama sekali..."

"Ayo makan lan..", seorang wanita bergamis hijau membuka pintu kamarnya dan membuatnya kaget. "Umm.. Baik ma, sebentar lagi. Aku harus membereskan ini dulu", seraya mengambil foto-foto dan memasukkannya kembali ke amplop. Wanita itu tersenyum dan kembali menutup pintu, pergi ke ruang makan dimana ayahnya sudah menunggu untuk makan malam bersama.

"Kau tidak jadi pergi?", ayahnya bertanya heran. "Tidak yah.. Lagipula saat ini hujan sedang turun dengan cukup deras. Tidak mungkin kalau aku pergi menghadiri reuni tersebut.", katanya pelan, menyadari bahwa ia sedang makan dan tidak boleh berbicara banyak dan keras. "Kau memang sebaiknya tidak pergi. Penyakitmu bisa tambah parah nanti !!", mamanya menambahkan. "Ya ma.. Aku mengerti", dan kembali melahap makanan yang ada dihadapannya.

Fulan kembali menuju kamarnya dan duduk di depan meja rias model kuno peninggalan zaman belanda. Ia memandangi wajahnya melalui cermin itu dan mulai berbicara pada sosok yang ada di hadapannya. "Kira-kira dia sedang apa ya?", menatap dalam mata itu dan berharap seseorang dibalik cermin itu menjawab pertanyaan konyolnya. "Apa pernah satu waktu dia berfikir tentang aku?", kali ini mulutnya mulai manyun.

***

Fulan mengeluarkan earphone dan memasangnya ke mp4 miliknya, menarik sebuah buku novel dan mulai membacanya lembar demi lembar. "Apa bagian ini kosong?", seseorang bediri di hadapannya dan bertanya. Fulan menutup novelnya kaget dan menatap seseorang itu. Seketika badannya mulai bergetar. "Ya.. Silahkan", ucapnya gugup. Ternyata orang yang bertanya padanya itu adalah seseorang yang dia lihat melalui kerumunan pendaftar tadi. "Mahasiswi jurusan apa?", tanya laki-laki itu saat melepas tasnya dan duduk di sebelah Fulan.. "Um.. Jurusan Arkeologi. Kau sendiri?". "Aku Jurusan Ekonomi. Namaku Miki, namamu?". "Fulan", meraih tangan Miki dan menyalaminya. "Hmmm ngomong-ngomong kenapa kamu mau masuk jurusan itu? Bukankah didominasi oleh laki-laki ya?". Fulan menyimpulkan senyum penuh arti dan membuka kembali novel yang tadi tertutup karena dikagetkan oleh Miki.

"Ayahku seorang arkeolog. Dia bekerja di salah satu museum disini, kupikir tidak buruk jika aku ingin menjadi seperti ayahku". Miki mengangguk pelan meskipun sebenarnya ia masih belum bisa menerima argumen yang baru saja dia dengar. "Lalu, jika kau mengambil ekonomi, mengapa tidak berkuliah di Unimi?", tanya Fulan heran. "Aku sudah mencoba, tapi tidak diterima."-"Tidak apa-apa, tidak peduli kau berkuliah dimana, jika kau mampu kau pasti bisa", kali ini kata-kata Fulan terucap pasti, tanpa terdengar getaran-getaran di bibir merahnya.

***
 

Just a Little Thing Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal